gilangtamma

gilangtamma a blackpacker

Kalau misal ga ada Innova parkir dan mobil berplat Z dalam frame, ada yang percaya ini di Bandung? – View on Path.

Kalau misal ga ada Innova parkir dan mobil berplat Z dalam frame, ada yang percaya ini di Bandung? – View on Path.

"

masih ada cerita dari Sabang, Banda Aceh, Takengon, Bireun, Belitong, jelajah Jawa, Bali, Lombok, Komodo, Makassar, Toraja, Selayar, Buton, Wakatobi, Raja Ampat, Alor, Singapore, Malaysia, Vietnam, Cambodia, Thailand daaaaan lain-lain yang saya belum sempat ceritain…,

~selalu begini. hihihi…

"

Aceh! Assalamualaikum…!

Tulisan ini saya buat tepat 2 tahun setelah kepulangan saya dari Pulau Weh. Hehe… Tampak sekali saya pemalas. Ya kan saya bukan pengrajin. Setelah melalui perjalanan yang panjang, berliku dan menegangkan akhirnya saya mendaratkan badan di pulau paling ujung barat Indonesia ini. Pulau Weh dengan ibukota Sabang ini mempunyai luas sekitar 156km2. Bukan tiba-tiba saya ada di pulau ini. Prosesnya cukup panjang. Dimulai dari Bandung, mampir ke Medan sebentar, perjalanan darat malam hari ke Bireun, berkunjung ke Takengon, hingga hampir tertinggal kapal ferry di Banda Aceh. Panjang kan… Sengaja saya simpan Sabang sebagai tujuan terakhir dalam itinerary. Alasan utamanya biar klimaks liburannya. Kita sih pengen ending yang sempurna. Betewe, kita itu siapa saja? Kita terdiri dari 5 orang anak manusia. Saya, Adisty, Edo, Ridha, dan Putri. Dua nama terakhir teman saya yang asli orang Aceh. Siapa sangka kontur wilayah pulau Weh adalah perbukitan. Baru keluar kapal, kita sudah nyasar. Tanya-tanya orang jalan ke Sabang lewat mana. Dan tanjakan curam nan panjang adalah jalan satu-satunya. Dengan tenaga maksimal mobil yang mengangkut 5 orang plus peralatan diving ini perlahan meniti jalan menanjak sambil zig-zag. Tak banyak buang waktu, kita langsung mengarah ke tugu 0 kilometer Indonesia. tanpa harus masuk ke kota Sabang, kita menemukan jalan pintas sendiri. Lewat di pinggir danau yang jalannya menurun sangat curam. perjalanan menjelang sore ini sangat mengesankan. Lautan berwarna keemasan memantulkan sinar sore matahari. Beberapa kali kami berhenti untuk memotret pulau-pulau kecil yang tak jauh dari pantai. Lupa ada berapa banyak tanjakan selama perjalanan. Yakale mesti diitung.. Ada sebuah tanjakan yang banyak kera rusuhnya. Wah langsung pada tutup jendela, takut dijarah. Semuanya pada ketawa-ketiwi ngegosipin kumpulan monyet liar tadi. Tiba-tiba mesin mobil mati masih di tanjakan yang sama. Hanya berjarak 50 meter dari kerumunan. Langsung pada mikir mau keluar dari mobil apa ikut terguling sama mobil? Diluar banyak monyet-monyet itu. Uh, untung sudah lumayan masih. Semua yang ada di mobil buyar ga pake lama (kecuali sopir sih). Berhamburan keluar mobil buat ganjel mobil pake batu. Moment ini ngeri aslinya. Analisis pintar kita menyatakan mobil ini mesinnya oke-oke saja. Masih bagus dan tidak overheat. Bensinnya abis! Kita ga tau persediaan bahan bakar mobil ini masih banyak atau sudah menipis. Wong indikatornya aja mati.. Hari semakin sore. Suasana sedikit gelap karena hutan gunung. Kendaraan sangat jarang yang lewat. Ada beberapa, tapi cuek. Hiburan kita satu-satunya ya itu, ngeliat orang lewat yang diganggu monyet-monyet nakal sampai akhirnya kita disamperin sama masyarakat lokal. Baik sekali. Mereka yang antar salah satu dari kita untuk membeli bensin eceran yang jaraknya lumayan jauh. Setelah mobilnya minum, orang tadi melanjutkan perjalanan keatas, sedangkan kita balikin jerigen dulu. Turun lagi… lewat monyet lagi… Dengan penuh rasa percaya diri kita melanjutkan perjalanan hingga tugu 0 kilometer. Sudah senja waktu itu. Kita seperti bocah yang girangnya luarbiasa. Foto-foto di tugu 0 kilometer sampai lupa foto tugunya. Cuma foto prasastinya aja. Harusnya sih kalo ga kesorean kita bisa bikin sertifikat orang ke-sekian yang pernah menjejakkan kaki di 0 kilometer Indonesia. Sebelum benar-benar gelap kitapun menuju penginapan di Iboih. Destinasi favorit di Sabang. —-BERSAMBUNG

Good morning Cambodia

Good morning Cambodia

Kete Kesu, Toraja. #Indonesia #Nusantara #Framing #mistic #bone #celebes #SouthSulawesi #Cemetery

Kete Kesu, Toraja. #Indonesia #Nusantara #Framing #mistic #bone #celebes #SouthSulawesi #Cemetery

Lombok Videography Project team. Kita abis syuting scene perform diatas Bukit Raya. Latarnya Gunung Rinjani :)

Lombok Videography Project team. Kita abis syuting scene perform diatas Bukit Raya. Latarnya Gunung Rinjani :)

Divespot Mari Mabuk, Tomia - Wakatobi (Mei 2012)

Divespot Mari Mabuk, Tomia - Wakatobi (Mei 2012)

Meraknya Ciwidey…

Meraknya Ciwidey…

Mei 2012 saya ke Surabaya bawa berita bagus. Ayos, Putri, Werdha dan Deri ada waktu itu. Didalam sebuah kafe kita merencanakan sesuatu… Sebulan berlalu, dan.. ACTION! 

Seru seru seruuuu…!

_______________________________________________________________________________

Malam itu, sekitar pukul 1 dini hari saya datang ke rumah Mamiq Selamet. Beliau tinggal di desa yang berada di Lombok Timur. Sialnya hari itu saya tidak kebagian tiket pesawat untuk ke Lombok. Maka berangkatlah saya dari Bali dengan kapal feri dan baru menginjak daratan Lombok sekitar pukul 23.30. Kendaraan yang bakal mengantarkan saya ke Lombok Timur sudah standby sejak pukul 21.

Muka mengantuk Miq Selamet jelas terlihat saat kami bertamu. Beliau sudah tidur waktu kita sambangi rumahnya. Tapi beliau tetap menerima kita dengan hangat. Bahkan istrinya sempat bangun dan membuatkan kopi. Tamu tidak sopan. Yang terbayang jika di desa, jangankan pukul 1 dinihari, setelah shalat isya-pun pasti suasana desa sudah mulai sepi. Saya cuma mau beri kabar, kita akan syuting lusa, mengambil setting di Desa Denggen, dan butuh personil lengkap Gendang Beleq. Miq Selamet mengiyakan. Beliau pemimpin sanggar jadi apa aja bisa, cepat bahkan. 

Dua hari kemudian kami datang memenuhi janji. Malam itu saya memperkenalkan teman-teman kru. Ada Putri, Werdha, dan Deri. Kita membahas tentang persiapan syuting dan planing untuk kegiatan 2 hari kedepan. Direncanakan hari pertama mengambil gambar suasana desa, siangnya untuk wawancara, sorenya untuk pengambilan gambar penampilan grup Gendang Beleq, dan malamnya mengumpulkan sample audio untuk diolah lagi oleh music director kami, Samuel Respati. Hari kedua direncanakan untuk kembali mengambil suasana pedesaan dipagi hari dan mengikuti keseharian Pak Mastur, salahsatu sekehe Gendang Beleq.

Obrolan diselingi candaan berlangsung lama hingga larut malam. Kami berkumpul dengan para sekehe atau pemain Gendang Beleq yang akan tampil esok harinya. Sempat juga kita memilih kostum apa yang sebaiknya digunakan untuk pengambilan gambar. Baru beres pukul 2 malam.

Pukul 5 pagi kita sudah berangkat ke Desa Denggen. Suasana desa tampak mulai ramai setelah shalat subuh. Warga mulai beraktivitas membuat suasana pagi saat itu bergeliat. Kabut tipis masih menyangkut dipuncak pohon kelapa yang tampak dari atas bukit Raya. Langit juga tampak sedikit berawan. Membuat ladang tembakau dibawahnya tidak tersinari. Kami ditemani Miq Selamet yang mengaku baru 2 kali naik ke bukit ini. Bukit ini terkenal angker katanya.

Dengan 2 buah kamera kami mengambil gambar Gunung Rinjani yang gagah. Selain itu pengambilan timelapse di beberapa sudut juga dilakukan. Selama pengambilan gambar Miq Selamet banyak bercerita mengenai desanya. 

Matahari mulai meninggi. Kabut mulai hilang perlahan bersamaan dengan turun bukitnya kami. Misi ‘mendalami’ desa dilanjutkan. Kami mencari lokasi syuting yang pas untuk penampilan Gendang Beleq. Harus keren, harus sensasional mengingat scene perform Gendang Beleq adalah scene utama. Mulai dari bendungan, tempat penjemuran beras di KUD, ladang tembakau, hingga kebun buah naga. Semuanya kurang memuaskan. Bayangan kami ada tanah yang lapang untuk dijadikan arena tampil para sekehe, terbayang juga bebasnya kita mengeksplorasi detail para sekehe saat menampilkan kesenian Gendang Beleq.

Saat kembali ke sanggar, tugas baru sudah menunggu. Semalam, Putri menjadwalkan setelah pengambilan gambar di Bukit Raya, kita akan mewawancarai orang-orang yang terkait dengan kesenian Gendang Beleq. Kami mewawancarai tokoh desa, pemimpin sanggar, dan perawat alat. Setting lokasi di gudang penyimpanan alat. Tak butuh waktu lama untuk mengatur alat. Werdha sibuk dengan settingan kamera dan gonta-ganti lensa, Putri sibuk dengan alat rekam Tascam, saya sendiri mengatur properti pendukung. Supaya manis dilayar.

Butuh waktu sekitar dua jam untuk mewawancarai tiga orang. Tidak lama, tidak cepat juga. Waktu break menunggu sore kita sudah tak kuat menahan kantuk. Ketiduran.

Sore yang ditunggu tiba. Keputusan sudah bulat bahwa pasukan Gendang Beleq akan tampil di Bukit Raya, bukit yang terkenal angker bagi warga setempat. Skenario sudah diatur dan briefing singkat berjalan lancar. Kamipun berpencar menjadi 2 kubu. Werdha dan Deri dengan kamera utama mengikuti para sekehe dari dekat. Saya dan Putri dengan kamera kedua sudah menunggu dari atas Bukit Raya untuk merekam gambar dari jarak jauh. Melihat pasukan oranye berbaris rapi melewati pematang ladang tembakau yang saat itu belum sebulan ditanam. 

Diatas bukit banyak juga anak-anak yang mengintili kita. Ya seperti pada umumnya, bagaimana orang tertarik pada hal yang baru. Mereka heran melihat kita panggul tripod, utak-atik kamera dan lensa. Masyarakat juga berbondong ‘menonton’ proses syuting. Anak-anak berteriak dengan senang “La.. kesolahne…” yang kira-kira artinya; “wah bagus banget”. Rupanya merekapun walau warga desa tapi tidak pernah naik ke bukit yang jaraknya tidak jauh, persis dibelakang desa. Kesan angker sudah begitu melekat rupanya.

Bukit Raya saat itu mendung. Para sekehe (pemain Gendang Beleq) seperti kehilangan semangat tanpa sebab. Gendang yang bersuara besar tersebut tampak melempem. Suaranya seperti tertelan langit. Beberapa penampilan tiba-tiba berhenti ditengah jalan. Miq Selamet sebagai pemimpin sanggar sempat marah karena kecewa. Pergantian posisi pemain beberapa kali dilakukan. Ada sekitar tiga kali. Saya pikir sih mereka grogi. 

Mendung memudar. Matahari khas sore yang kekuningan muncul membuat semangat para sekehe terbit kembali. Jauh lebih semangat, jauh lebih percaya diri. Pukulan gendang dan cengceng bersautan mantap. Puncak Gunung Rinjani menyaksikan para sekehe beraksi. Tampak sempurna sekali sore itu. Werdha asik dengan glidecam dan kamera utamanya merangsek kedalam kerumunan sekehe yang sedang beraksi. Berniat menangkap semangat mereka dari dekat. Saya dengan kamera kedua mengambil detail gerakan dari pertunjukan yang sedang berlangsung.

Selesai! Proses pengambilan gambar selesai tepat 5 menit sebelum adzan maghrib berkumandang. Kita sempatkan foto-foto bareng sekehe. Tim kecil kami yang hanya 4 orang ini tertelan seragam oranye para pepadu…

_______________________________________________________________________________

TIm Kami:

Werdha, sebagai DoP dan kameramen.

Deri, sebagai editor. Banyak eksperimen keren, tapi terus ilang..

Samuel, sebagai music director. Bebunyian dalam video diurusnya.

Ayos, sebagai tim kreatif. Garis besar ide cerita dibuatnya.

Putri, sebagai director dan produser pelaksana yang juga ingetin makan.

Gilang, -mengaku- sebagai produser dan kameramen 2.

_______________________________________________________________________________

Terimakasih buat dukungan penuh dari Pemprov NTB dan PT Newmont Nusa Tenggara.

Dermaga Pulau Mansuar - Raja Ampat
-Oktober 2012

Dermaga Pulau Mansuar - Raja Ampat

-Oktober 2012

People I Follow

  • dianzt-dives
  • staff
  • kusumorini
  • lombokvacation
  • madalkatiri